Tanpa disadari, aplikasi paling banyak mengumpulkan data mungkin sudah ada di smartphone yang kita gunakan setiap hari. Data tersebut dapat berupa lokasi, identitas, informasi kontak, aktivitas penggunaan, hingga informasi pembelian.
Sebuah penelitian dari IT Asset Management Group (IT-AMG) menganalisis kebijakan privasi lebih dari 5.000 aplikasi di Apple App Store. Hasilnya menunjukkan sejumlah aplikasi populer mengumpulkan dan mengaitkan data pengguna dalam jumlah besar.
Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami. Daftar tersebut tidak membuktikan bahwa aplikasi-aplikasi tersebut melakukan aktivitas ilegal atau menyadap pengguna secara diam-diam. Penilaiannya didasarkan pada informasi privasi yang dilaporkan oleh pengembang kepada Apple.
Dengan kata lain, masalah utamanya adalah seberapa banyak data yang dikumpulkan, dikaitkan dengan identitas pengguna, dan digunakan untuk aktivitas pelacakan.
Bagaimana Penelitian Ini Menilai Aplikasi?
IT-AMG membuat indeks privasi dengan skor maksimal 100. Penelitian tersebut menggunakan 46 indikator yang mencakup 35 jenis data, enam tujuan pengumpulan data, serta lima jenis hubungan antara data dan pengguna.
Data kemudian dikategorikan berdasarkan apakah informasi tersebut dikumpulkan, dikaitkan dengan identitas pengguna, atau digunakan untuk tracking. Semakin banyak informasi yang dikumpulkan dan semakin kuat hubungannya dengan identitas pengguna, semakin tinggi tingkat intrusivitasnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instagram dan Facebook berada di posisi teratas dengan skor 61,47 dari 100. Keduanya mengumpulkan 32 dari 35 kategori data yang dianalisis.
10 Aplikasi yang Paling Banyak Mengumpulkan Data
Berikut daftar 10 aplikasi dengan skor intrusivitas tertinggi dalam penelitian tersebut:
| Peringkat | Aplikasi | Skor |
|---|---|---|
| 1 | 61,47 | |
| 1 | 61,47 | |
| 3 | Grab: Taxi Ride, Food Delivery | 55,57 |
| 4 | Threads | 54,53 |
| 4 | Meta Business Suite | 54,53 |
| 4 | Messenger | 54,53 |
| 7 | Nordstrom Rack: Shop Deals | 53,62 |
| 8 | Nordstrom | 52,54 |
| 9 | 50,06 | |
| 10 | AE + Aerie | 50,01 |
Data tersebut berasal dari analisis IT-AMG terhadap informasi privasi aplikasi di App Store. Menariknya, daftar tersebut tidak hanya berisi media sosial. Ada juga aplikasi transportasi, pesan-antar makanan, e-commerce, hingga aplikasi bisnis.
1. Instagram
Instagram berada di posisi teratas bersama Facebook dengan skor 61,47. Menurut penelitian, aplikasi ini mengumpulkan 32 dari 35 jenis data yang dianalisis. Sebanyak 25 kategori dikaitkan dengan pengguna dan tujuh kategori tercatat sebagai data yang dikaitkan sekaligus digunakan untuk tracking.
Data yang dikumpulkan dapat berkaitan dengan identitas pengguna, perangkat, lokasi, aktivitas, dan berbagai informasi lainnya.
Bagi pengguna Instagram, hal tersebut bukan berarti akun mereka sedang diretas. Sebagian besar aktivitas tersebut berkaitan dengan cara aplikasi menyediakan fitur, analitik, personalisasi, dan iklan.
Meski begitu, semakin banyak data yang terhubung dengan satu identitas, semakin penting bagi pengguna untuk memahami pengaturan privasinya.
2. Facebook
Facebook memiliki skor yang sama dengan Instagram, yaitu 61,47. Aplikasi ini juga tercatat mengumpulkan 32 kategori data. Penelitian IT-AMG menempatkannya di posisi paling atas karena banyak data dikaitkan dengan pengguna.
Platform media sosial memang memiliki alasan operasional untuk mengumpulkan banyak informasi.
Pengguna membuat profil, mengunggah foto, berinteraksi dengan orang lain, mengikuti halaman, memberikan reaksi, dan menggunakan berbagai fitur. Semua aktivitas tersebut menghasilkan data.
Masalah privasi muncul ketika pengguna tidak benar-benar memahami bagaimana data tersebut digunakan dan dikombinasikan.
3. Grab
Grab menempati posisi ketiga dengan skor 55,57. Penelitian mencatat bahwa aplikasi ini mengumpulkan 27 jenis data. Sebanyak delapan kategori dikaitkan dengan pengguna dan 15 kategori tercatat sebagai data yang dikaitkan sekaligus dilacak.
Angka tersebut sebenarnya cukup mudah dipahami jika melihat fungsi aplikasinya.
Layanan transportasi dan pesan-antar makanan membutuhkan informasi seperti lokasi, identitas, pembayaran, dan riwayat transaksi.
Masalahnya bukan semata-mata apakah aplikasi membutuhkan data tersebut. Pertanyaan yang lebih penting adalah data apa yang dikumpulkan, untuk tujuan apa, dan berapa lama informasi tersebut dipertahankan.
4. Threads
Threads berada dalam kelompok peringkat keempat dengan skor 54,53. Aplikasi milik Meta tersebut tercatat mengumpulkan 32 jenis data dan seluruhnya dikaitkan dengan pengguna dalam penelitian tersebut. Namun, tidak ada kategori yang diklasifikasikan sebagai tracking dalam pengukuran IT-AMG.
Perbedaan antara data yang dikumpulkan dan data yang digunakan untuk tracking perlu diperhatikan.
Sebuah aplikasi dapat mengumpulkan banyak informasi untuk menjalankan layanan tanpa seluruh data tersebut otomatis masuk kategori tracking menurut definisi Apple.
Jadi, jumlah data yang dikumpulkan tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai bukti bahwa aplikasi sedang “memata-matai” pengguna.
5. Meta Business Suite
Meta Business Suite juga mendapatkan skor 54,53. Aplikasi ini ditujukan terutama untuk pengelolaan aktivitas bisnis di ekosistem Meta.
Karena digunakan untuk mengelola halaman, akun bisnis, pesan, konten, serta aktivitas pemasaran, kebutuhan datanya tentu berbeda dengan aplikasi biasa.
Dalam penelitian IT-AMG, aplikasi ini tercatat mengumpulkan 32 jenis data yang dikaitkan dengan pengguna.
Bagi pemilik bisnis, informasi tersebut menjadi alasan tambahan untuk memeriksa akun dan perangkat yang memiliki akses ke Meta Business Suite.
Akun bisnis sebaiknya tidak diperlakukan seperti akun media sosial pribadi. Ada data pelanggan, pesan, aset digital, dan informasi bisnis yang ikut berada di dalamnya.
6. Messenger
Messenger melengkapi tiga aplikasi yang memiliki skor 54,53 pada posisi keempat. Aplikasi komunikasi ini tercatat mengumpulkan 32 kategori data dan mengaitkannya dengan pengguna dalam penelitian tersebut.
Aplikasi pesan memang membutuhkan informasi tertentu agar dapat berfungsi.
Namun, pengguna tetap perlu membedakan antara data yang diperlukan untuk menjalankan layanan dan data yang digunakan untuk analitik, personalisasi, pemasaran, atau tujuan lainnya.
Semakin sensitif jenis datanya, semakin penting untuk membaca informasi privasi sebelum memberikan izin.
7. Nordstrom Rack
Aplikasi Nordstrom Rack: Shop Deals berada di peringkat ketujuh dengan skor 53,62. Penelitian mencatat 22 jenis data dikumpulkan. Empat kategori dikaitkan dengan pengguna, sedangkan 18 kategori dikategorikan sebagai data yang dikaitkan sekaligus dilacak.
Aplikasi belanja memang memiliki banyak alasan untuk mengumpulkan informasi.
Riwayat pembelian, preferensi produk, identitas pelanggan, serta informasi perangkat dapat membantu layanan menyediakan rekomendasi dan pengalaman belanja yang lebih personal.
Namun, informasi tersebut juga dapat memiliki nilai tinggi untuk aktivitas pemasaran.
8. Nordstrom
Aplikasi Nordstrom berada tepat di bawah Nordstrom Rack dengan skor 52,54. Aplikasi ini tercatat mengumpulkan 22 kategori data. Lima di antaranya dikaitkan dengan pengguna, sementara 17 kategori dikategorikan sebagai data yang dikaitkan sekaligus dilacak.
Data dari aplikasi belanja dapat menggambarkan banyak hal tentang seseorang.
Produk yang dicari, barang yang dibeli, lokasi, serta pola penggunaan aplikasi dapat membantu perusahaan memahami perilaku konsumen.
Karena itu, aplikasi e-commerce juga layak mendapat perhatian ketika kita membicarakan privasi, bukan hanya media sosial.
9. Pinterest
Pinterest mendapatkan skor 50,06 dan berada di posisi kesembilan. Aplikasi ini tercatat mengumpulkan 29 jenis data. Sebanyak 22 kategori dikaitkan dengan pengguna, sedangkan enam kategori dikaitkan sekaligus digunakan untuk tracking.
Pinterest banyak digunakan untuk mencari inspirasi gambar, desain, dekorasi, makanan, fashion, dan berbagai ide lainnya. Aktivitas tersebut dapat membentuk gambaran mengenai minat seseorang.
Jika dikombinasikan dengan informasi lainnya, data perilaku pengguna dapat menjadi dasar untuk personalisasi konten maupun iklan.
10. AE + Aerie
Aplikasi AE + Aerie, milik American Eagle Outfitters, berada di posisi kesepuluh dengan skor 50,01. Penelitian mencatat 21 jenis data dikumpulkan. Tiga kategori dikaitkan dengan pengguna dan 16 kategori dikategorikan sebagai data yang dikaitkan sekaligus dilacak.
Kembali terlihat pola yang sama. Privasi bukan hanya persoalan aplikasi media sosial. Aplikasi belanja juga dapat mengumpulkan informasi dalam jumlah cukup besar karena berkaitan dengan aktivitas transaksi dan perilaku konsumen.
Tidak Ada Instagram? Bukan Berarti Aman
Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah daftar tersebut bukan daftar aplikasi “jahat”. Selain itu, aplikasi yang tidak masuk 10 besar bukan berarti otomatis aman dari masalah privasi. Penelitian IT-AMG hanya memberikan gambaran berdasarkan metodologi dan data yang tersedia pada saat penelitian dilakukan.
PCMag juga menyoroti bahwa informasi privasi yang ditampilkan di App Store merupakan self-reported information dari perusahaan. Artinya, pengguna tetap perlu membaca kebijakan privasi masing-masing aplikasi dan tidak menganggap label tersebut sebagai audit independen. Dengan kata lain, daftar ini lebih tepat digunakan sebagai alarm untuk memeriksa aplikasi di smartphone, bukan sebagai daftar hitam mutlak.
Mengapa Aplikasi Mengumpulkan Banyak Data?
Tidak semua pengumpulan data dilakukan untuk tujuan yang sama.
Sebuah aplikasi dapat menggunakan data untuk:
- menjalankan fitur utama;
- membuat akun;
- memproses transaksi;
- mencegah penipuan;
- melakukan analitik;
- memperbaiki layanan;
- personalisasi;
- pemasaran;
- atau menampilkan iklan.
Google menjelaskan bahwa informasi Data Safety di Google Play dapat menunjukkan jenis data yang dikumpulkan dan dibagikan aplikasi serta tujuan penggunaannya. Jadi, jumlah data bukan satu-satunya faktor.
Konteks penggunaan data juga sangat penting. Aplikasi peta yang meminta lokasi, misalnya, memiliki alasan yang cukup jelas untuk membutuhkan data lokasi. Sebaliknya, aplikasi sederhana yang tidak membutuhkan lokasi tetapi meminta akses lokasi terus-menerus tentu patut dipertanyakan.
Cara Mengecek Izin Aplikasi di Android
Pengguna Android memiliki beberapa alat untuk memeriksa akses aplikasi. Android menyediakan Privacy Dashboard yang dapat menunjukkan aplikasi mana yang mengakses data sensitif seperti lokasi, kamera, dan mikrofon. Pengguna juga dapat membuka pengaturan izin untuk melihat aplikasi yang memiliki akses terhadap:
- lokasi;
- kamera;
- mikrofon;
- kontak;
- kalender;
- sensor tubuh;
- dan jenis data sensitif lainnya.
Untuk lokasi, Android juga memungkinkan pengguna menentukan apakah aplikasi boleh mengakses lokasi secara terus-menerus, hanya ketika digunakan, meminta izin setiap kali, atau tidak mendapatkan akses sama sekali. Jika sebuah aplikasi yang jarang digunakan masih memiliki banyak izin, waktunya untuk melakukan pemeriksaan.
Cara Memeriksa Privasi Aplikasi di iPhone
Pengguna iPhone juga memiliki beberapa fitur untuk memeriksa aktivitas aplikasi.
Apple menyediakan App Privacy Report yang dapat menunjukkan seberapa sering aplikasi mengakses lokasi, foto, kamera, mikrofon, dan kontak dalam periode tertentu. Fitur tersebut juga dapat memperlihatkan domain yang dihubungi oleh aplikasi.
Selain itu, sejak iOS 14.5, aplikasi harus meminta izin jika ingin melakukan tracking aktivitas pengguna di aplikasi atau situs milik perusahaan lain untuk tujuan tertentu seperti iklan atau berbagi data dengan data broker.
Pengguna dapat mengubah izin tersebut kapan saja melalui pengaturan privasi.
Periksa Privacy Label Sebelum Menginstal
Salah satu kebiasaan paling sederhana adalah memeriksa informasi privasi sebelum menginstal aplikasi.
Apple menyediakan Privacy Nutrition Labels di App Store. Informasi tersebut menunjukkan kategori data yang dapat dikumpulkan aplikasi dan apakah data tersebut digunakan untuk tracking atau dikaitkan dengan identitas pengguna.
Google Play juga memiliki bagian Data Safety yang memberikan informasi mengenai pengumpulan dan pembagian data aplikasi. Memang membaca kebijakan privasi bukan aktivitas paling menyenangkan di dunia.
Namun, lima menit membaca informasi privasi jauh lebih murah daripada menyesal setelah data pribadi tersebar ke terlalu banyak pihak.
Hapus Aplikasi yang Sudah Tidak Digunakan
Cara paling sederhana untuk mengurangi pengumpulan data adalah menghapus aplikasi yang memang tidak lagi digunakan. Jika sebuah aplikasi tidak dibuka selama berbulan-bulan, tetapi masih terpasang dan memiliki sejumlah izin, tidak ada banyak alasan untuk mempertahankannya.
Android bahkan memiliki mekanisme untuk mereset izin aplikasi yang sudah lama tidak digunakan.
Selain mengurangi potensi pengumpulan data, menghapus aplikasi yang tidak diperlukan juga dapat menghemat ruang penyimpanan dan mengurangi jumlah aplikasi yang perlu diperbarui.
Gunakan Versi Web Jika Memungkinkan
Tidak semua layanan harus digunakan melalui aplikasi.
Untuk beberapa layanan, versi web dapat menjadi alternatif.
Misalnya, media sosial atau layanan belanja tertentu dapat diakses melalui browser. Pendekatan tersebut tidak otomatis membuat aktivitas menjadi anonim, tetapi dapat mengurangi sebagian akses langsung aplikasi terhadap sensor dan data perangkat.
Tetap saja, website juga dapat menggunakan cookie, tracker, fingerprinting, dan teknologi analitik lainnya. Jadi, browser bukan jubah penghilang jejak digital. Ia hanya memberi pilihan tambahan.
Bagaimana dengan Aplikasi Anak?
Masalah privasi menjadi lebih sensitif ketika menyangkut anak-anak. Penelitian SafetyDetectives yang dikutip PCMag menganalisis 20 aplikasi populer untuk anak dan menemukan bahwa seluruh aplikasi berbasis langganan dalam sampel tersebut memiliki risiko privasi. Sekitar 70% mengumpulkan informasi yang dapat mengidentifikasi pengguna, sementara lebih dari separuh membagikan data pengguna atau anak kepada pihak ketiga.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan rating usia ketika memasang aplikasi untuk anak.
Periksa juga:
- jenis data yang dikumpulkan;
- izin kamera dan mikrofon;
- akses foto;
- lokasi;
- kontak;
- praktik berbagi data;
- dan kebijakan penghapusan akun.
Aplikasi pendidikan pun tidak otomatis bebas dari persoalan privasi hanya karena namanya terdengar mendidik.
Haruskah Semua Aplikasi di Daftar Ini Dihapus?
Tidak harus. Penelitian tersebut bukan berarti menyatakan semua aplikasi di daftar itu berbahaya.
Banyak aplikasi memang membutuhkan data tertentu agar dapat berfungsi. Grab membutuhkan lokasi dan informasi pembayaran untuk menjalankan layanan transportasi dan pesan-antar. Aplikasi belanja membutuhkan informasi transaksi. Media sosial membutuhkan data akun dan aktivitas untuk menjalankan fitur utama.
Yang perlu dilakukan pengguna adalah memahami trade-off antara kenyamanan dan privasi. ika sebuah aplikasi mengumpulkan data yang tidak diperlukan untuk fungsi utamanya, pertimbangkan kembali izin yang diberikan.
Kesimpulan
Daftar aplikasi paling banyak mengumpulkan data dari penelitian IT-AMG menunjukkan bahwa persoalan privasi smartphone jauh lebih luas daripada sekadar media sosial.
Instagram dan Facebook berada di posisi teratas dengan skor 61,47. Di bawahnya terdapat Grab, Threads, Meta Business Suite, Messenger, Nordstrom Rack, Nordstrom, Pinterest, dan AE + Aerie.
Namun, daftar tersebut sebaiknya tidak dipahami sebagai bukti bahwa semua aplikasi tersebut melakukan aktivitas berbahaya.
Penelitian tersebut menggunakan informasi privasi yang dilaporkan oleh pengembang di App Store. Karena itu, hasilnya lebih tepat digunakan sebagai indikator untuk meningkatkan kesadaran pengguna terhadap praktik pengumpulan data.
Langkah yang paling masuk akal cukup sederhana.
Periksa izin aplikasi secara berkala. Baca Privacy Label atau Data Safety sebelum menginstal aplikasi baru. Cabut akses yang tidak diperlukan. Hapus aplikasi yang sudah tidak digunakan.
Dan yang paling penting, jangan memberikan izin hanya karena sebuah aplikasi menampilkan tombol “Allow” dengan wajah memelas.
Smartphone memang pintar. Penggunanya juga sebaiknya ikut sedikit pintar soal privasi.