Kalau mendengar kata micin, kebanyakan orang Indonesia langsung teringat pada bumbu penyedap rasa yang sering digunakan di dapur. Namun, tahukah kamu bahwa micin dan chip AI ternyata memiliki hubungan tidak langsung melalui teknologi material yang digunakan dalam industri semikonduktor?
Mengapa Ajinomoto Bisa Relevan dengan Industri AI?
Perkembangan AI yang pesat beberapa tahun terakhir menuntut chip dengan performa yang jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya. Namun performa tinggi itu tidak hanya soal prosesor seperti GPU atau CPU.
Ada banyak komponen pendukung lain yang bekerja di belakang layar agar sebuah chip bisa berfungsi dengan optimal. Termasuk material yang digunakan dalam proses pengemasan atau packaging chip. Di sinilah nama Ajinomoto muncul. Melalui produk material bernama Ajinomoto Build-up Film (ABF).
Penting untuk digarisbawahi di sini: hubungan Ajinomoto dengan dunia chip AI bukan karena mereka memproduksi GPU atau CPU. Ajinomoto berperan sebagai penyedia salah satu material penting dalam rantai pasok industri semikonduktor. Khususnya di tahap pengemasan chip.
Apa Itu ABF Ajinomoto?

ABF atau Ajinomoto Build-up Film adalah material isolator berbentuk lapisan tipis (film) yang digunakan dalam proses pembuatan substrat pada packaging semikonduktor.
Fungsinya adalah membantu mengisolasi sekaligus menata jalur-jalur listrik yang sangat kecil dan padat di dalam substrat chip. Substrat ini bisa dibayangkan sebagai “alas” tempat chip ditempatkan sebelum terhubung ke papan sirkuit utama sebuah perangkat elektronik.
Berkat sifat isolasi dan ketahanan panas yang dimilikinya. ABF memungkinkan produsen chip merancang jalur koneksi yang jauh lebih rumit dan padat dibanding sebelumnya. Tanpa mengorbankan sinyal listrik di dalamnya.
Bagaimana Micin Bisa “Nyambung” dengan ABF Ajinomoto?
Ini bagian yang perlu diluruskan sejak awal: MSG atau micin dan ABF bukanlah bahan yang sama, dan micin di dapur tidak digunakan langsung sebagai bahan baku pembuatan chip.
Hubungan keduanya lebih tepat dilihat dari sisi sejarah riset dan keahlian perusahaan. Menurut sejumlah sumber industri, keterkaitan ini bermula dari riset Ajinomoto pada dekade 1970-an. Terhadap senyawa berbasis asam amino dan produk turunan dari proses fermentasi MSG.
Dari riset itu, ditemukan bahwa sejumlah material resin memiliki sifat isolasi dan tahan panas yang berpotensi berguna untuk kebutuhan industri elektronik. Temuan inilah yang kemudian dikembangkan selama puluhan tahun oleh Ajinomoto hingga akhirnya melahirkan ABF sebagai material khusus untuk packaging semikonduktor.
Apa Hubungan ABF dengan Chip Semikonduktor?
Untuk memahami posisi ABF, ada baiknya melihat alurnya secara singkat: Chip → Packaging → Substrat → ABF.
Setelah sebuah chip selesai diproduksi di pabrik, chip itu belum bisa langsung dipasang ke perangkat elektronik. Chip masih perlu melewati proses packaging, yaitu proses “membungkus” sekaligus menghubungkan chip dengan sistem elektronik di luarnya melalui substrat.
Nah, di dalam substrat inilah ABF semikonduktor digunakan sebagai material isolator antar-lapisan. Bayangkan ABF seperti lapisan isolasi dan struktur pendukung pada jaringan kabel yang sangat padat, sehingga ribuan jalur listrik kecil bisa disusun berdekatan tanpa saling mengganggu satu sama lain.
Tanpa material isolator yang andal seperti ini, akan sulit membangun substrat dengan kepadatan koneksi tinggi yang dibutuhkan chip-chip modern saat ini.
Kenapa ABF Penting untuk Chip AI?

Kebutuhan terhadap ABF chip AI meningkat seiring makin kompleksnya GPU dan chip akselerator AI yang dipakai di pusat data. Chip-chip ini membutuhkan jalur koneksi dengan kepadatan dan kecepatan transfer data yang jauh lebih tinggi dibanding chip-chip pada umumnya.
Tren advanced packaging, yaitu teknik pengemasan chip yang semakin canggih, juga mendorong kebutuhan substrat dengan kepadatan koneksi tinggi. Ditambah lagi, pertumbuhan komputasi AI dan pusat data secara global membuat permintaan terhadap material seperti ABF terus meningkat dari tahun ke tahun.
Namun perlu digarisbawahi, ABF bukanlah “otak” dari sebuah chip AI. ABF adalah salah satu material penting yang membantu chip berperforma tinggi dapat dikemas dan dihubungkan dengan sistem elektronik di sekitarnya, bukan komponen yang menjalankan proses komputasi itu sendiri.
Kesimpulan
Yang perlu diingat, hubungan ini sama sekali tidak berarti micin di dapur berubah menjadi bahan chip AI. Keduanya adalah dua hal yang berbeda: MSG adalah produk pangan untuk konsumsi sehari-hari, sedangkan ABF adalah material teknologi yang lahir dari riset dan keahlian Ajinomoto di bidang kimia dan fermentasi.
Kisah ABF Ajinomoto ini menunjukkan sesuatu yang menarik tentang teknologi Ajinomoto dan industri semikonduktor secara umum: perkembangan teknologi sering melibatkan perusahaan dan material chip yang tidak terlihat langsung oleh pengguna akhir. Sesuatu yang selama ini dikenal sebagai produk makanan ternyata berasal dari perusahaan yang juga punya peran dalam rantai pasok teknologi semikonduktor, jauh di balik layar chip AI yang kita gunakan setiap hari.